Sabtu, 21 Juni 2014

Flash Fiction - Horor - Sudden Death



Sena masih tertegun memandang secarik kertas di hadapannya. Ia terus mengingat kata-kata yang tertulis di sana. Tak panjang, tapi terasa sangat menyakitkan. Ya, remaja yang satu ini memang sedikit sensitif terhadap kritikan pedas. Mungkin apa yang telah dihasilkannya belum termasuk kategori ‘pantas’, namun ia merasa kerja kerasnya tak dihargai.
Di kamar gelapnya itu, Sena banyak menghabiskan waktu. Meskipun tak ada gadget yang membuatnya sangat betah menyendiri. Rambut panjangnya kusut, tak tertata rapi seperti gadis remaja lain. Mukanya hampir dipenuhi oleh bintik-bintik merah. Tetapi ia tak pernah mempermasalahkan hal itu, toh tak kan ada orang lain yang peduli.
“Hey, Sena! Tidakkah kau kesepian di sini?” tanya sesosok perempuan kecil dari sudut gelap kamar Sena.
Sena hanya membalas dengan sebuah gelengan kepala. Matanya masih terpaku pada kertas putih yang entah apa tulisannya.
Sosok itu mendekat. Mata bulat kemerahan miliknya menatap muka Sena intens. Beberapa saat kemudian, ia menyeringai. Gigi-gigi tajam yang tertanam pada rahang atas dan rahang bawahnya tampak seperti gergaji yang siap melumat apapun.
“Rupanya bertambah satu lagi, ya?” sosok yang sepertinya telah akrab dengan Sena itu tertawa lebar sejurus dengan apa yang dilihatnya.
Sena diam, kepalanya masih tertunduk. Ia sama sekali tak ingin menanggapi lawan bicaranya.
“Hihihii … kau memang gadis yang menarik, Sena,”
Di balik diamnya, Sena tampak berpikir keras. Mungkin karena isi tulisan di kertas itu, atau mungkin juga karena keadaan.
Jleebb!!
Mata pisau berhasil menembus kulit perut Sena, lalu bersarang tepat di jantungnya. Gadis itu kemudian tergolek bersimbah darah. Ia tak sendirian, di tempat itu terdapat jasad sang kakak serta kedua orang tuanya. Mereka semua terbunuh oleh tangan dingin Sena.
Melihat kejadian itu, sosok tadi makin tertawa puas. Ia akhirnya berhasil menyingkirkan keluarga Sena dari kediamannya setelah berusaha sekian lama.
'Kamu tidak akan mampu menyaingiku dengan tulisan payah seperti itu, bodoh!' ia tertawa membaca tulisannya sendiri.

Jakarta, 19 Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman