Sena masih tertegun memandang secarik kertas di hadapannya.
Ia terus mengingat kata-kata yang tertulis di sana. Tak panjang, tapi terasa
sangat menyakitkan. Ya, remaja yang satu ini memang sedikit sensitif terhadap
kritikan pedas. Mungkin apa yang telah dihasilkannya belum termasuk kategori
‘pantas’, namun ia merasa kerja kerasnya tak dihargai.
“Hey, Sena! Tidakkah kau kesepian di sini?” tanya sesosok
perempuan kecil dari sudut gelap kamar Sena.
Sena hanya membalas dengan sebuah gelengan kepala. Matanya
masih terpaku pada kertas putih yang entah apa tulisannya.
Sosok itu mendekat. Mata bulat kemerahan miliknya menatap
muka Sena intens. Beberapa saat kemudian, ia menyeringai. Gigi-gigi tajam yang
tertanam pada rahang atas dan rahang bawahnya tampak seperti gergaji yang siap
melumat apapun.
“Rupanya bertambah satu lagi, ya?” sosok yang sepertinya
telah akrab dengan Sena itu tertawa lebar sejurus dengan apa yang dilihatnya.
Sena diam, kepalanya masih tertunduk. Ia sama sekali tak
ingin menanggapi lawan bicaranya.
“Hihihii … kau memang gadis yang menarik, Sena,”
Di balik diamnya, Sena tampak berpikir keras. Mungkin karena
isi tulisan di kertas itu, atau mungkin juga karena keadaan.
Jleebb!!
Mata pisau berhasil menembus kulit perut Sena, lalu
bersarang tepat di jantungnya. Gadis itu kemudian tergolek bersimbah darah. Ia
tak sendirian, di tempat itu terdapat jasad sang kakak serta kedua orang
tuanya. Mereka semua terbunuh oleh tangan dingin Sena.
Melihat kejadian itu, sosok tadi makin tertawa puas. Ia
akhirnya berhasil menyingkirkan keluarga Sena dari kediamannya setelah berusaha
sekian lama.
'Kamu tidak akan mampu menyaingiku dengan tulisan payah
seperti itu, bodoh!' ia tertawa membaca tulisannya sendiri.
Jakarta, 19 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar