Kamis, 19 Februari 2015

Cerpen - Family - Sepucuk Rindu Untuk Ayah



Namaku Hazel, atau Bianka Hazel Paulina lebih tepatnya. Hari-hariku terasa lebih sepi saat ini. Sejak ibu memutuskan untuk pergi meninggalkanku—juga ayah tentunya. Aku tahu bukan kemauan ibu untuk melakukannya, namun tetap saja … dunia seolah menghukumku seumur hidup.

Kini tinggallah aku bersama ayah. Di usiaku saat ini, seharusnya aku sedang mengenyam pendidikan—mungkin kelas delapan. Namun karena pekerjaan ayahku tak cukup untuk biaya sekolah, terpaksa aku harus urung mengenyam pendidikan formal. Satu-satunya guruku adalah alam—setelah ibu pergi.

Sabtu, 21 Juni 2014

Flash Fiction - Horor - Sudden Death



Sena masih tertegun memandang secarik kertas di hadapannya. Ia terus mengingat kata-kata yang tertulis di sana. Tak panjang, tapi terasa sangat menyakitkan. Ya, remaja yang satu ini memang sedikit sensitif terhadap kritikan pedas. Mungkin apa yang telah dihasilkannya belum termasuk kategori ‘pantas’, namun ia merasa kerja kerasnya tak dihargai.

Flash Fiction - Horor Komedi - Bendera Kuning

“Muke gile, nyesel gue dini hari tadi jagoin Spanyol!” Pocil menggerutu sambil menata ulang tali pocong yang terlepas dari kakinya, “Gue harus protes nih sama si Kumal!”

Jumat, 20 Juni 2014

Flash Fiction - Horor - Rumah Kematian



Renda mematikan mesin motor dan memarkirkannya di teras rumah Sena. Sena yang telah turun terlebih dahulu, membuka pintu rumah berwarna abu-abu itu. Begitu pintu telah terbuka, Sena masuk dengan perlahan dan mengamati keadaan sekitarnya. Renda membuntuti di belakang, sedikit heran dengan tingkah Sena. Ia memasuki rumahnya sendiri namun terlihat begitu waspada.

Halaman