Sena masih tertegun memandang secarik kertas di hadapannya.
Ia terus mengingat kata-kata yang tertulis di sana. Tak panjang, tapi terasa
sangat menyakitkan. Ya, remaja yang satu ini memang sedikit sensitif terhadap
kritikan pedas. Mungkin apa yang telah dihasilkannya belum termasuk kategori
‘pantas’, namun ia merasa kerja kerasnya tak dihargai.
Karena hanya dengan menulislah aku mampu berbagi. Melalui rentetan kata yang terangkai dalam cerita, kucoba tuk ucapkan pada mereka ... bahwa aku ada.
Sabtu, 21 Juni 2014
Flash Fiction - Horor Komedi - Bendera Kuning
“Muke gile, nyesel gue dini hari tadi jagoin Spanyol!” Pocil
menggerutu sambil menata ulang tali pocong yang terlepas dari kakinya, “Gue
harus protes nih sama si Kumal!”
Jumat, 20 Juni 2014
Flash Fiction - Horor - Rumah Kematian
Renda mematikan mesin motor dan memarkirkannya di teras rumah Sena. Sena yang telah turun terlebih dahulu, membuka pintu rumah berwarna abu-abu itu. Begitu pintu telah terbuka, Sena masuk dengan perlahan dan mengamati keadaan sekitarnya. Renda membuntuti di belakang, sedikit heran dengan tingkah Sena. Ia memasuki rumahnya sendiri namun terlihat begitu waspada.
Langganan:
Komentar (Atom)