“Muke gile, nyesel gue dini hari tadi jagoin Spanyol!” Pocil
menggerutu sambil menata ulang tali pocong yang terlepas dari kakinya, “Gue
harus protes nih sama si Kumal!”
“Iya, kemarin gue tanya ke dia … terus jawabannya tuh
meyakinkan ‘bingits’!” Pocil menjawab pertanyaan Tuli sembari memperlihatkan
raut muka menyesal.
“Lagian Spanyol yang kalah kan? Kenapa malah elo yang
depresi?” Tuli mencoba menenangkan hati Pocil, namun sepertinya hal itu justru
membuat pocong bermuka blasteran Belanda-Cilacap di depannya semakin tertekan.
“Elo gak tahu sih, Li! Gara-gara Spanyol kalah, gue jadi
kalah taruhan juga! Elo juga gak tahu kan, gimana perjuangan gue biar bisa
lihat pertandingan semalem? Gue bela-belain gak ngerjain tugas tata busana,
padahal gue udah remed tujuh kali!” Pocil tampak semakin kesal, tanpa disadari
air mata perlahan terjun membasahi tulang pipinya.
“Oh … gitu?” balas Tuli singkat.
“Udah? Gitu doang? Gue jelasin ke elo panjang lebar, dan elo
cuma jawab gitu? Padahal elo udah gue anggap kayak tuyul gue sendiri, Li!
Sakitnya tuh di sini!” tukas Pocil sambil susah payah mengeluarkan tangan
kanannya dari ikatan tali pocong agar bisa menunjuk ke arah dada.
“Iya iya, maaf … emang Kumal bilang apa ke elo?” tanya Tuli
sambil membantu Pocil mengeluarkan tangannya.
“Kumal bilang yang bakal menang tuh yang benderanya mirip
sama bendera Indonesia!”
“Nah, bener lah!”
“Bener gimana sih maksud lo? Yang mirip sama Indonesia kan
bendera Spanyol!”
“Mirip dari mananya?” tanya Tuli heran.
“Kan sama-sama ada warna kuningnya, Li!”
“Sejak kapan bendera Indonesia ada kuningnya?” Tuli semakin
heran.
“Elo lihat aja, tiap ada upacara kematian pasti bendera
kuning berkibar!”
Perbincangan itu berakhir dengan sebuah toyoran di kepala Pocil.
Jakarta, 14 Juni 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar