Karena hanya dengan menulislah aku mampu berbagi. Melalui rentetan kata yang terangkai dalam cerita, kucoba tuk ucapkan pada mereka ... bahwa aku ada.
Jumat, 20 Juni 2014
Flash Fiction - Horor - Rumah Kematian
Renda mematikan mesin motor dan memarkirkannya di teras rumah Sena. Sena yang telah turun terlebih dahulu, membuka pintu rumah berwarna abu-abu itu. Begitu pintu telah terbuka, Sena masuk dengan perlahan dan mengamati keadaan sekitarnya. Renda membuntuti di belakang, sedikit heran dengan tingkah Sena. Ia memasuki rumahnya sendiri namun terlihat begitu waspada.
“Malam ini gue nginep di sini ya, Sen? Orang tua elo masih di luar kota kan?” ucap Renda santai, mencoba memecah keheningan.
“Iya, Ren, nginep aja ... lagian gue juga takut sendirian,” jawab Sena pelan. Tanpa sepengetahuan Renda, ia menyeringai. Tampak sangat senang atas permintaan sahabatnya itu.
“Apa sih yang elo takutin? Rumah ini masih nyaman, enak, sama kayak yang gue rasain dulu,” Renda menanggapi ucapan Sena sambil duduk di sofa merah ruang tamu. Ia begitu menikmati suasana rumah dan sedikit bernostalgia dengan masa lalunya. Rumah itu dulunya adalah rumah teman masa kecilnya sebelum tiba-tiba saja pindah ke luar kota.
“Haha, enggak kok, Ren, gue cuma bercanda,” balas Sena sembari menggantungkan tas kecilnya.
“Tapi gue heran, kenapa keluarga temen gue dulu tiba-tiba pindah ya?”
“Mungkin ada suatu hal yang memaksa mereka pindah, Ren?”
“Setahu gue sih mereka udah nyaman di sini, tapi gak tahu juga deh.”
Renda meneruskan kesibukkannya mengamati sekeliling ruangan. Meski banyak perubahan interior, suasana rumah itu tidak berubah. Masih tetap nyaman.
“Dan kali ini elo tahu apa yang menyebabkan mereka pindah, Ren,” tiba-tiba Sena mencekik leher Renda dari belakang. Sontak Renda terkejut dengan hal itu, namun sudah terlambat. Napasnya tersengal, pita suaranya sudah tak mampu bergetar dan membuatnya terdiam.
“Gue yang menyebabkan mereka pindah, gue gak sudi rumah gue ditempati sama keluarga licik seperti mereka ... bisanya cuma membodohi orang lain, termasuk elo!” Sena terus mencengkeram leher Renda erat-erat, namun ia juga memastikan bahwa Renda belum mati, “Elo juga harus tahu, gue bukan Sena! Gue Nila, pemilik asli rumah ini ... gue tewas lima tahun lalu di tangan bokap lo cuma gara-gara sepeser uang,” tutur Sena yang raganya telah diambil alih oleh sosok bernama Nila.
Renda bungkam, pikirannya kacau. Ia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi di masa lalu. Namun semuanya sudah terlambat, sebentar lagi dia akan menyusul kedua orang tuanya.
“Elo pasti juga udah tahu, kan? Orang tua elo yang gak tahu malu itu mati karena siapa? Hahaha ... gue yang bunuh mereka, dan sekarang giliran lo!” sosok itu tertawa keras, ia terlihat sangat puas.
Nila melepaskan cengkeramannya, namun ia justru mengambil sebilah pisau. Dengan sigap Nila menancapkan benda tajam itu ke leher Renda. Cairan merah kental perlahan keluar, membasahi baju putih Renda. Bau anyir menyeruak, Nila semakin tertawa lebar. Tampak puas dengan hasil kerjanya. Di balik semua itu, tersimpan sedikit rasa terimakasih di benaknya. Terimakasih kepada Sena yang telah bersedia menjadi boneka untuknya.
Jakarta, 12 Juni 2014
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar