Kamis, 19 Februari 2015

Cerpen - Family - Sepucuk Rindu Untuk Ayah



Namaku Hazel, atau Bianka Hazel Paulina lebih tepatnya. Hari-hariku terasa lebih sepi saat ini. Sejak ibu memutuskan untuk pergi meninggalkanku—juga ayah tentunya. Aku tahu bukan kemauan ibu untuk melakukannya, namun tetap saja … dunia seolah menghukumku seumur hidup.

Kini tinggallah aku bersama ayah. Di usiaku saat ini, seharusnya aku sedang mengenyam pendidikan—mungkin kelas delapan. Namun karena pekerjaan ayahku tak cukup untuk biaya sekolah, terpaksa aku harus urung mengenyam pendidikan formal. Satu-satunya guruku adalah alam—setelah ibu pergi.


“Hari beranjak siang, apa yang kaulakukan dengan pena dan kertas itu?” tegur ayah ketika ia melihatku menggenggam pena usang yang kutemukan beberapa hari lalu dan sebuah kertas bekas bungkus kacang rebus.

“Aku hanya sedang mengingat-ingat pelajaran yang diajarkan ibu, Ayah,” dengan lembut aku menanggapi pertanyaan ayah. Lelaki berjenggot tebal itu tampak muram, mungkin tak suka dengan apa yang tengah kukerjakan.

“Cepatlah beranjak dari dudukmu dan segera kaupilah kayu bakar yang telah kukumpulkan kemarin!” ujar ayah sesaat sebelum tubuh tegapnya menghilang dari balik tirai penghalang ruang belakang.

Aku mengangguk, meskipun ayah tak melihatnya. Segera kuletakkan pena dan kertasku di atas meja kecil di samping ranjang. Kemudian, aku berjalan ke luar rumah. Di samping kanan rumah, terdapat sebuah gudang kecil tempat ayah biasa meletakkan kayu bakar yang ia peroleh dari hutan. Seperti biasa, tugasku memilah-milah kayu bakar yang sudah kering dan yang masih basah.

Mungkin sedikit aneh di tengah kemajuan zaman seperti sekarang, masih ada pekerjaan mencari kayu bakar seperti yang dilakukan ayah. Namun mungkin inilah kehendak Tuhan, Dia mempertemukan kami dengan seseorang bernama Tuan Leon. Tak seperti kebanyakan orang, sosok seperti Tuan Leon sangat membantu perekonomian keluarga kecilku. Untuk mengepulkan dapurnya, Tuan Leon lebih memilih kayu bakar daripada harus menggunakan teknologi lain seperti kompor gas. Bukan hal yang aneh, karena Tuan Leon memiliki sebuah restoran makan—yang cukup besar. Tentu kayu bakar—sedikit banyak—membuat makanan yang tersaji di sana menjadi lebih bercitarasa.

Matahari bersinar semakin terik, kupercepat pekerjaanku agar tidak membuat ayah marah—lagi. Kumasukkan kayu bakar yang telah kering ke gudang penyimpanan, sisanya kubawa ke halaman depan untuk kukeringkan di bawah sinar matahari. Biasanya satu hari saja sudah cukup untuk membuat kayu-kayu itu kering.

Setelah kurasa semuanya beres, aku kembali masuk ke dalam rumah. Kuambil segelas air putih dalam wadah penyimpanan, lalu kuminum untuk mengusir rasa haus.

Dalam gubug kecil yang kusebut rumah ini, hanya ada dua ruangan.

Ruangan depan kusebut dengan ruang tamu. Jangan pernah membayangkan ruang tamu di rumahku seperti ruang tamu di rumah-rumah pada umumnya. Hanya ada satu meja bundar ditemani dua kursi yang sedang panjangnya. Tak ada ornamen-ornamen apapun pada dinding-dindingnya. Hanya papan-papan kayu murni—yang tersusun rapi—tak berbalut cat apapun.

Kemudian tepat di balik ruangan itu, terdapat sebuah ruangan lagi. Ukurannya sedikit lebih luas daripada ruang tamu—mungkin sepuluh langkah panjangnya. Di tempat itu, terdapat sebuah ranjang di sisi kirinya, serta sebuah sofa usang di sisi kanan. Aku biasa tidur bersama ibu—dulu ketika beliau masih ada, sedangkan ayah bersedia tidur sendiri di atas sofa. Sekarang pun tetap seperti itu; ayah tidur di sofa dan aku tidur di atas ranjang. Hanya saja, kini aku sendirian. Tak ada yang memelukku di saat angin malam membekap perlahan.

Lagi … jangan tanyakan dapur ataupun kamar mandi. Untuk makan, ayah lebih suka membeli daripada harus memasak. Pun ketika ibu masih bersama kami. Walaupun terkadang, ibu membuat dapur dadakan di samping rumah untuk memasak. Sementara itu, peralatan masak yang ada hanya sebuah panci pemberian Tuan Leon beserta pengaduknya. Kini, benda itu tak terpakai lagi. Ayah menggantungnya di sisi belakang rumah. Sementara untuk mandi, kami biasa pergi ke sungai yang tak jauh dari rumah. Tak perlu khawatir, karena rumahku cukup terpencil. Sangat jarang orang yang berani datang ke sungai ketika jelaga mulai gelap.

Kulangkahkan kakiku menuju ranjang, kemudian kembali kuambil pena dan kertasku. Mungkin aku berdosa beberapa saat lalu ketika ayah bertanya padaku. Sesungguhnya aku sama sekali tidak belajar apa yang diajarkan ibu—dulu, karena kurasa aku cukup lihai tentang perhitungan ataupun ingatan. Aku lebih suka bercerita. Karena dengan itu, aku merasa mampu bercakap-cakap dengan ibu. Dulu ibu yang menceritakan kisahnya padaku, kini giliranku bercerita kepadanya.

Ibuku tersayang. Hari-hariku terasa sepi tanpamu. Seperti biasa, ayah terlalu sibuk bekerja. Kami hanya bertemu ketika makan siang dan makan malam saja. Ketika aku bangun, ayah sudah pergi ke hutan. Suatu keberuntungan jika aku bisa melihatnya ketika pertama kali mataku terbuka—setelah tidur. Ketika malam tiba, ayah lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah. Menyulut sebatang rokok dan memandangi langit luas. Kuharap ayah sedang memikirkan ibu.

Saat ini aku sedang menabung, menyisihkan uang jajan yang diberikan ayah untukku. Kuyakin ayah tak mengetahuinya. Ayah hanya tahu bahwa aku seperti anak-anak yang lain, bahkan ayah masih memperlakukanku seperti anak-anak. Ayah mungkin lupa bahwa aku mulai tumbuh dewasa.

Entah mengapa meskipun aku bertemu ayah setiap hari, aku merindukannya sama seperti aku merindukanmu, Ibu. Aku merindukan waktu-waktu kita bersama. Aku merindukan waktu luang bersama ayah. Aku ingin duduk bersama ayah, dan minum teh hangat bersamanya. Itu cukup memberikan kedamaian bagiku, dan cukup untuk mengobati rasa rinduku padamu, Ibu.

Kurasa aku selesai menuliskan coretanku untuk ibu hari ini. Kuyakin ibu pasti membacanya. Kemudian kulipat kertas itu, lalu kuselipkan di bawah bantal tidur—bersama uang tabunganku.

                                                               ***

Semburat jingga di ufuk barat segera sirna tersapu jelaga kelam. Angin berembus perlahan menyapu daun-daun kering yang berjatuhan di halaman rumah. Astaga! Aku lupa mengangkat kayu-kayu bakar yang kukeringkan tadi siang. Kurasa aku terlampau lama terlelap dalam mimpi.

Segera aku turun dari atas ranjang dan berlari keluar rumah. Kudapati kayu-kayu itu masih tergeletak di halaman. Sepertinya ayah belum kembali dari rumah Tuan Leon—untuk mengantar kayu bakar hari ini.

“Syukurlah,” gumamku pelan sambil mengangkat kayu-kayu itu satu per satu menuju gudang penyimpanan. Ada sedikit rasa takut dalam benakku jika aku melakukan sebuah kesalahan—sekecil apapun itu. Aku tahu ayah tak akan segan-segan memukulku karenanya.

Tak berapa lamanya aku selesai membereskan kayu bakar di halaman, aku kembali masuk ke ruang belakang. Beberapa saat kemudian, kudengar suara pintu terbuka. Itu pasti ayah!

Dalam keremangan cahaya lampu, mungkin tak ada yang mampu melihat betapa wajahku berbinar karena kepulangan ayah. Segera kutemui ayah dengan segelas air di tangan. Wajahnya tampak sangat lelah, pakaianya semakin lusuh. Kulihat ia melepaskan topi hitamnya.

“Ayah pasti lelah,” ucapku sambil meletakkan air minum, “minumlah dulu, Ayah.”

“Ah, sebenarnya kau tak perlu melakukan ini. Ayah bisa mengambilnya sendiri,” balasnya sambil mengibas-ngibaskan topi mencoba untuk mengusir keringat.

“Aku hanya ingin sedikit membantu,” jawabku sambil kutundukkan kepala.

Entah karena memang haus atau karena melihat ekspresiku, ayah mengangkat segelas air itu dan kemudian meminumnya—sampai habis.

Dengan sedikit memberanikan diri, aku bertanya kepada ayah, “Ayah, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

Ayah meletakkan gelasnya, kemudian membuka suara, “Tentu saja, apa yang ingin kautanyakan?”

Sebenarnya aku ingin membatalkan niatku ini, namun ibarat pakaian … aku terlanjur basah. Tak ingin semuanya menjadi sia-sia, akhirnya kuteruskan pertanyaanku. “Berapa penghasilan ayah setiap harinya?”

Mendengar pertanyaanku, raut wajah ayah sedikit berubah menjadi lebih murung. Sempat kulihat kerutan pada dahinya, kemudian ia membuka mulutnya, “Untuk apa kautanyakan hal seperti itu? Itu bukanlah sesuatu yang sepatutnya kautanyakan.”

“Tapi … aku hanya ingin tahu, Ayah. Tolonglah beri tahu aku …,” rayuku kepada ayah dengan sedikit wajah meminta belas kasihan.

Kulihat ayah mengambil napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. “Aku mendapatkan lima puluh ribu dari Tuan Leon untuk satu ikat kayu bakar.”

“Lalu, jika dijumlahkan berapa uang yang ayah terima setiap harinya?” kuajukan lagi sebuah pertanyaan—penegasan.

“Kurang lebih seratus lima puluh ribu setiap harinya,” jawab ayah sembari memandang intens kedua bola mataku. “Lalu apa tujuanmu menanyakan hal itu?” tambahnya.

Aku bergeming sejenak, kemudian mencoba merangkai kata agar menjadi sebuah jawaban yang tak terlalu membuat ayah marah. “Eum … bolehkah aku memintanya sedikit saja, Ayah?”

“Sudah kuduga pasti ini tujuanmu. Kau harus belajar berhemat! Kau tahu kita bukanlah golongan keluarga ningrat yang bisa makan enak setiap hari! Kaupikir aku akan memberikanmu uang agar kau bisa menggunakannya untuk berfoya-foya membeli barang yang tak berguna?” ayah menjawab panjang lebar, lagi-lagi nyaliku ciut untuk melanjutkan perbincangan.

Kuputuskan untuk beranjak dari kursi, dan masuk ke ruang belakang—menuju ranjang. “Maafkan aku, Ayah. Aku tak akan menanyakan hal itu lagi.”

Selama beberapa saat, keadaan menjadi sangat hening. Kuangkat bantal tidurku dan kuhitung kembali jumlah tabungan yang berhasil kukumpulkan.

“Masih belum cukup,” gumamku pelan, kemudian menyimpannya kembali.

Tirai pembatas antara ruang depan dan ruang belakang terlihat terbuka. Seorang pria paruh baya dengan jenggot tebal hitam—bertubuh tegap—masuk, kemudian duduk di atas ranjang mendampingiku. “Maafkan ayah, Sayang. Mungkin ayah terlalu keras padamu. Berapa uang yang kaubutuhkan sampai-sampai kau berani menanyakan penghasilan ayah?” ia mengajukan tanya sambil membelai rambut hitamku—yang kukuncir rapi.

“Apakah tak menjadi masalah jika aku meminta uang lagi kepada ayah?” tanyaku sambil memandang wajah ayah malu-malu.

“Katakanlah, Sayang. Kau adalah putriku satu-satunya, dan aku tak ingin kau sedih. Karena aku yakin jika kau sedih, ibumu pasti akan ikut sedih,” balas ayah dengan sangat lembut.

“Aku membutuhkan tiga puluh ribu, Ayah.”

Tanpa pikir panjang, ayah terlihat mengeluarkan uang pecahan sepuluh ribu sebanyak tiga lembar dari saku celana hitamnya. “Ini … kau boleh gunakan untuk apapun. Semaumu,” ujar ayah sambil mengulas senyum meneduhkan.

“Terimakasih, Ayah,” dengan senang hati aku menerima uang itu.

Kuputar tubuhku sembilan puluh derajat ke arah kiri. Lalu kuangkat bantalku dan kuambil uang hasil tabunganku. Aku tersenyum puas.

Namun tidak dengan ayah. Melihat aku memiliki uang yang cukup banyak, emosinya kembali tersulut. “Untuk apa kau meminta uang jika kau sendiri memiliki uang sebanyak itu, hah?”

Api amarah sangat jelas terlihat dari ekspresi wajah ayah. Rasa takut kembali menyelimuti sekujur tubuhku. Di tengah-tengah keadaan seperti itu, aku kembali memberanikan diri untuk melawan rasa takut. Toh, semua ini untuk tujuanku. Tujuan yang kurasa sangat jauh dari kata buruk.

“Selama beberapa minggu terakhir, aku mengumpulkan uang jajan yang Ayah berikan. Aku sama sekali tak butuh uang, Ayah. Aku tak seperti anak-anak lain yang gemar menghambur-hamburkan uang,” jawabku dengan susah payah karena aku harus menahan runtuhan butiran-butiran bening yang mulai menggenang di pelupuk mata.

“Lalu untuk apa uang-uangmu itu?” ayah kembali bertanya dengan nada yang masih tinggi.

“Saat ini aku berhasil mengumpulkan uang sebanyak seratus lima puluh ribu, jumlah yang sama dengan uang yang ayah terima dalam sehari bekerja. Jadi, bisakah aku meminta ayah untuk sehari saja menghabiskan waktu bersamaku?” tangisanku pecah, dengan berani kusuguhkan uang yang kupunya ke hadapan ayah.

Ayah bergeming. Sejenak kulihat ia membuang muka dari pandanganku. Sepersekian detik kemudian, dua tangannya yang kekar memeluk tubuhku erat. Sangat hangat. Benar-benar pelukan yang telah lama tak kurasakan.

Aku mencintai ayah, dan tentunya aku sangat mencintai ibu. Aku mencintai mereka berdua meskipun kutahu kami tak akan pernah lagi bersama. Namun saat ini, kehangatan keluarga kecilku kembali terasa. Aku merindunya, aku sangat amat merindunya.

“Aku merindumu, Ayah,” ucapku lirih di tengah haru yang melanda seisi gubug kecil kami.

Ayah tak menjawab. Ia hanya merespon dengan dekapan yang lebih erat—dan lebih hangat dari sebelumnya.

                                                                 *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman